TIMES MALUT — Boki Nita Budhi Susanti menyerukan persatuan masyarakat Maluku Utara di tengah mencuatnya isu referendum. Ia meminta masyarakat tetap menjaga adat dan budaya serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Seruan itu disampaikan Boki Nita saat ditemui awak media di Rappa Pelangi, Jumat, 21 Agustus 2026. Ia saat itu membicarakan rencana kunjungannya ke Pulau Hiri, Kota Ternate, yang bertepatan dengan puncak kegiatan budaya masyarakat setempat.
Dalam kunjungan tersebut, Boki Nita dijadwalkan bersama Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, yang disebutnya juga sebagai Kapita Korois Kesultanan Ternate.
Menurut Boki Nita, kegiatan budaya di Pulau Hiri digelar setiap empat tahun sekali. Tradisi itu berkaitan dengan sejarah perjuangan Sultan Baabullah menghadapi Portugis.
“Tradisi itu berkaitan dengan apa yang dikenal masyarakat sebagai perjanjian gaib, yang memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan Sultan Baabullah dalam menghadapi Portugis,” kata Boki Nita.
Ia mengatakan tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun. Namun, pelaksanaannya kini lebih dimaknai sebagai sarana silaturahmi dan komunikasi, sekaligus menjaga hubungan masyarakat dengan adat warisan leluhur.
Boki Nita juga menyinggung sosok Ratu Nukila yang menurut dia memiliki sejarah perjuangan bersama Kapita Laut dalam menghadapi Portugis. Ratu Nukila, kata dia, juga pernah berjuang membebaskan anaknya yang ditahan Portugis setelah kembali dari pembuangan.
“Kalau saya, memang penjajahnya sudah berbeda, sehingga situasinya juga berbeda,” ujarnya.
Boki Nita meminta masyarakat tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk memecah persatuan. Menurut dia, ketidakpuasan terhadap kondisi tertentu merupakan hal yang wajar, tetapi penyelesaiannya harus ditempuh melalui musyawarah.
“Saya rasa bentuk susunan pemerintahan kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah yang paling tepat dan sudah yang paling baik untuk kita,” kata dia.
Khusus masyarakat adat Pulau Hiri, Boki Nita meminta agar tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk mencari nafkah dan menempuh pendidikan, sembari menjaga tatanan adat.
Ia mengatakan adat merupakan bagian dari filosofi kehidupan masyarakat Maluku Kie Raha, termasuk masyarakat Pulau Hiri.
Boki Nita juga mengatakan masyarakat sebenarnya menginginkan kehadiran Kolano Madoru dalam kegiatan budaya tersebut. Namun, kehadirannya tidak dapat dipaksakan karena masih menjalani pendidikan.
“Pendidikan tetap menjadi yang utama karena itu masa depan,” tuturnya.
Selain berbicara mengenai adat dan sejarah, Boki Nita berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih besar terhadap pembangunan Maluku Utara.
Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Ternate. Sejak bersama almarhum Sultan Mudaffar Syah, ia menyebut pernah memiliki tempat yang dikenal sebagai Bubaneina.
“Kepulangan saya ke Ternate bukan hanya untuk nostalgia. Yang penting saya senang bisa kembali lagi ke Ternate. Tidak besar, tidak banyak, tapi ada kontribusi yang bisa saya bantu pemikiran untuk masyarakat Maluku Kie Raha,” ujarnya.
Boki Nita juga menyinggung program transmigrasi yang dinilainya dapat mendukung pembangunan daerah. Menurut dia, pembangunan kawasan transmigrasi bisa berdampak pada penyediaan infrastruktur dasar seperti jembatan, sekolah, dan fasilitas sanitasi.
“Sebagai istri Wakil Menteri Transmigrasi, tentu saya akan terus menyampaikan aspirasi agar Maluku Utara mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan pemerintah pusat,” katanya.
Ia menuturkan dukungan anggaran untuk Maluku Utara tetap ada meski pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran.
“Memang sekarang dikurang-kurangkan, ada efisiensi anggaran, tapi tetap ada. Tidak pernah kosong untuk Maluku Utara,” kata Boki Nita.(*)

Tinggalkan Balasan