TIMES MALUT – Wahana Visi Indonesia akan mengakhiri program pendampingan masyarakat di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, setelah berjalan selama 13 tahun sejak 2013.

Program yang akan berakhir pada 30 September 2026 itu mencakup perlindungan anak, kesehatan, pendidikan, serta peningkatan partisipasi anak dalam pembangunan.

Program Director Wahana Visi Indonesia, Ebenezer Sembiring, mengatakan pendampingan dilakukan di 20 desa yang tersebar di tiga kecamatan.

“Selama kurang lebih 13 tahun ini, hal-hal yang dilakukan Wahana Visi Indonesia antara lain berkaitan dengan perlindungan anak, kesehatan dan juga pendidikan anak-anak,” kata Ebenezer, Rabu, 12 Agustus 2026.

Selama menjalankan program, WVI membentuk dan melatih kader di setiap desa, termasuk kader posyandu dan kader perlindungan anak.

Para kader dibekali kemampuan untuk melakukan pendampingan, mengenali kasus kekerasan terhadap anak, memberikan penanganan awal, hingga memahami mekanisme rujukan.

Ia juga membentuk forum anak di tingkat desa dan kabupaten. Forum tersebut menjadi ruang bagi anak dan remaja untuk menyampaikan pendapat serta berpartisipasi dalam persoalan pembangunan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.

“Kita berharap mereka akan bisa tetap berlanjut, organisasinya tetap berlanjut, kaderisasi kepengurusannya bisa tetap berlanjut,” ujar Ebenezer.

Ebenezer mengatakan keberlanjutan program menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pergantian kepemimpinan dan perangkat pemerintahan dari tingkat desa hingga kabupaten.

Menurut dia, perubahan tersebut dapat memengaruhi kesinambungan koordinasi dan program yang telah dibangun selama ini.

Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan. Karena itu, Wahana Visi Indonesia berharap perlindungan anak, kesehatan, dan pendidikan tetap menjadi prioritas pemerintah daerah.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah pola pengasuhan anak. Menurut Ebenezer, masih terdapat kebiasaan mendisiplinkan anak dengan menggunakan kekerasan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Cara mendidik anak, mendisiplinkan anak tidak harus dengan kekerasan,” katanya.

Wahana Visi Indonesia kemudian mendorong pola pengasuhan berbasis kasih sayang dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah pola pengasuhan sekaligus mengurangi kekerasan terhadap anak.

Ebenezer mengakui kekerasan terhadap anak masih terjadi di Halmahera Timur. Bahkan, berdasarkan pengalaman WVI, Halmahera Timur termasuk salah satu wilayah program yang memiliki angka kekerasan terhadap anak cukup tinggi dibandingkan wilayah program Wahan Visi Indonesia lainnya.

“Masih terjadi dan bahkan Halmahera Timur menjadi salah satu wilayah yang secara angka menurut kami dibandingkan dengan wilayah-wilayah program Wahana Visi lainnya memiliki angka kekerasan terhadap anak yang cukup tinggi,” ujarnya.

Area Program Wahana Visi Indonesia  Halmahera Timur, Lisa Hernawati, mengatakan perlindungan dan pemenuhan hak anak membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Dalam upaya-upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bekerja sama lintas sektor dan kepentingan anak itu adalah kepentingan yang utama, bukan kepentingan kelompok,” kata Lisa.

Lisa berharap berbagai program yang telah dijalankan Wahana Visi Indonesia  selama 13 tahun dapat dilanjutkan oleh pemerintah desa, kecamatan, hingga pemerintah kabupaten.

Dia juga meminta anak-anak Halmahera Timur berani menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

“Anak-anak bukan hanya punya mimpi, tapi mereka punya harapan hidup yang lebih baik. Apa pun situasi dan kondisi mereka pada saat ini, mereka hanya perlu satu saja, berani untuk ngomong apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka rasakan,” ujarnya.

Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub mengapresiasi kontribusi WVI selama mendampingi anak-anak di daerah tersebut.

Menurut Ubaid, berbagai program Wahana Visi Indonesia telah memberikan semangat kepada anak-anak untuk meraih mimpi dan cita-cita. Pendampingan juga mendorong anak lebih peka terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.

“Apa yang telah dilakukan Wahana Visi Indonesia kepada anak-anak Halmahera Timur menambah semangat untuk meraih mimpi dan cita-cita, kemudian peka terhadap lingkungan bermasyarakat dengan menghindari hal-hal buruk serta pencegahannya,” kata Ubaid.

Ubaid berharap kegiatan positif yang telah dilakukan Wahana Visi Indonesia dapat diteruskan setelah program berakhir.

“Semoga ini menjadi lebih baik ke depannya dengan meneruskan kegiatan positif agar meningkatkan kualitas anak-anak di Halmahera Timur,” ujarnya.

Dengan berakhirnya program Wahana Visi Indonesia pada 30 September 2026, pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan dapat melanjutkan berbagai praktik baik yang telah dibangun selama 13 tahun, terutama dalam perlindungan anak, pendidikan, kesehatan, dan pemberian ruang bagi anak untuk berpartisipasi dalam pembangunan.(*)