TIMES MALUT — Petani di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, mulai mengurangi luas tanam padi. Mereka beralih menanam sayuran, tomat, dan rica yang masa panennya dinilai lebih cepat.
Suwarno, warga Wasile yang telah menetap di wilayah itu sejak 1982, mengatakan pilihan tersebut dipengaruhi tingginya biaya produksi padi dan sulitnya pemasaran hasil panen.
“Sekarang petani di sini sudah banyak yang mengurangi tanam padi. Paling banyak mereka menanam sayur, tomat, dan rica karena kalau menanam padi, panennya lama dan setelah panen juga sulit dipasarkan,” kata Suwarno, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurut Suwarno, kondisi itu membuat padi tidak lagi ditanam dalam skala luas seperti sebelumnya. Padahal, pada masa lalu, beras dari Subaim tidak hanya dipasarkan di sekitar Wasile, tetapi juga dikirim ke Ternate dan Tobelo.
“Dulu beras Subaim bisa dikirim sampai Ternate dan Tobelo karena dulu hampir semua petani menanam padi,” ujarnya.
Kini, beras dari luar daerah justru semakin banyak masuk ke Wasile. Suwarno menyebut pasokan antara lain berasal dari Makassar, Jawa, dan Surabaya. Sementara produksi beras lokal terus menurun.
“Beras Subaim yang langsung dari petani memang lebih murah, tetapi sekarang produksinya sudah berkurang dan kadang sudah habis,” katanya.
Suwarno mengatakan biaya menjadi persoalan utama bagi petani yang hendak menanam padi. Pengeluaran dimulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga panen.
Persoalannya, biaya tersebut belum tentu kembali ketika gabah atau beras sulit dipasarkan.
“Kalau hasil panen sulit terjual atau harganya murah, keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan,” katanya.
Dalam kondisi tertentu, hasil panen bahkan hanya cukup untuk membayar tenaga kerja di sawah. Petani kemudian harus mencari sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan.
“Kadang hasil panen hanya cukup untuk membayar orang yang bekerja di sawah. Padinya sendiri belum tentu langsung laku,” ujar Suwarno.
Karena itu, petani memilih menanam padi hanya di sebagian lahan. Tanaman sayuran, tomat, dan rica menjadi alternatif karena lebih cepat dipanen.
“Sisanya lebih banyak digunakan untuk menanam sayur, tomat, dan rica karena lebih cepat dipanen,” katanya.
Masalah lain yang dihadapi petani adalah akses terhadap pupuk. Suwarno mengatakan masih ada petani yang belum memiliki Kartu Tani sehingga kesulitan membeli pupuk.
Ia mengaku pernah mengalami persoalan serupa ketika hendak membeli pupuk untuk tanaman durian dan rambutan.
“Saya sendiri pernah mau membeli pupuk untuk tanaman durian dan rambutan, tetapi tidak bisa karena tidak mempunyai Kartu Tani,” katanya.
Menurut Suwarno, petani yang tidak memiliki Kartu Tani biasanya meminta bantuan petani lain yang memiliki kartu. Dalam praktiknya, satu kartu dapat digunakan bersama oleh beberapa petani.
“Satu Kartu Tani bisa dipakai bersama, bahkan ada yang dibagi untuk dua sampai tiga orang,” ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui secara jelas bagaimana proses pembuatan atau pembagian Kartu Tani. Karena itu, ia berharap seluruh petani mendapat akses terhadap kartu tersebut.
“Seharusnya semua petani mendapatkan Kartu Tani supaya tidak kesulitan membeli pupuk,” katanya.
Suwarno menilai keterbatasan pupuk ikut memengaruhi keputusan petani dalam menggarap lahan. Petani yang telah menyiapkan lahan bisa menunda atau mengurangi kegiatan tanam ketika pupuk tidak tersedia.
Padahal, menurut dia, lahan persawahan di wilayah Wasile masih cukup luas. Potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk produksi padi.
“Sekarang banyak petani yang tidak lagi menanam padi secara luas dan lebih memilih menanam sayuran, tomat, dan rica,” katanya.
Suwarno berharap persoalan produksi, pemasaran, dan pupuk dapat ditangani agar petani kembali berani memperluas areal tanam padi. Jika tidak, produksi beras lokal dikhawatirkan terus menurun dan kebutuhan masyarakat semakin bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, petani akan semakin mengurangi luas tanam padi karena biaya produksi tinggi, pemasaran sulit, dan pupuk juga sulit diperoleh,” ujar Suwarno.(*)

Tinggalkan Balasan