TIMES MALUT – Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Ternate menyerukan penguatan gerakan rakyat untuk merespons kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan berbagai persoalan sosial-ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Aldi Haris saat dikonfirmasi mengatakan, FMN Cabang Ternate yang menilai kenaikan BBM tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan biaya produksi yang berujung pada menurunnya daya beli masyarakat.

FMN menilai persoalan tersebut merupakan bagian dari krisis yang lebih luas, yakni krisis tata kelola negara yang dianggap semakin menjauh dari cita-cita kemerdekaan. Organisasi mahasiswa itu menyebut kebijakan yang membebani rakyat berpotensi memperdalam kemiskinan dan memperlebar ketimpangan sosial.

Kata Aldi, FMN juga menyoroti kondisi Maluku Utara yang dinilai mengalami paradoks pembangunan. Meski menjadi daerah penghasil sumber daya alam bernilai besar, masih banyak masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, dan infrastruktur.

Aldi bilang, FMN menilai berbagai persoalan seperti kerusakan lingkungan dan konflik agraria masih menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat di daerah tersebut.

“Kenaikan BBM hanyalah salah satu gejala dari krisis yang lebih besar, yaitu krisis tata kelola negara yang semakin menjauh dari cita-cita kemerdekaan,” ujarnya.

Atas dasar itu, FMN menyerukan agar semangat Reformasi Jilid II mulai dikobarkan dari Maluku Utara. Menurut organisasi tersebut, perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar pergantian elite politik, melainkan perubahan mendasar terhadap sistem yang dianggap melahirkan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan sosial.

Aldi menambahkan, FMN juga mengajak mahasiswa, pemuda, buruh, petani, nelayan, masyarakat adat, serta berbagai elemen masyarakat lainnya untuk memperkuat persatuan dan perjuangan bersama dalam menghadapi kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

“Kenaikan BBM hari ini harus menjadi alarm bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa krisis sedang berlangsung di depan mata,” tutupnya. (*)