Times Malut —  Festival Sepak Bola Kategori Usia 9 Tahun Kota Tidore Kepulauan, resmi berakhir. Kegiatan yang diselenggarakan Marijang Football Academy (MFA) Tidore yang diberi nama Marijang Fest 2026 tersebut ditutup oleh Lurah Kelurahan Goto, Taib A. Karim, pada Minggu, 20 September 2026, di Lapangan Kelurahan Goto.

Marijang Fest menjadi gebrakan perdana MFA Tidore dalam menghadirkan ruang kompetisi bagi anak-anak usia dini. Turnamen ini tidak hanya menjadi ajang pertandingan, tetapi juga mempertemukan anak-anak dari sejumlah sekolah sepak bola untuk mendapatkan pengalaman bermain, membangun keberanian, belajar bekerja sama, serta menikmati proses pembinaan melalui sepak bola.

MFA Tidore sendiri merupakan sekolah sepak bola yang baru berdiri pada 23 Juli 2026 dan resmi bermarkas di Lapangan Kelurahan Goto. Meski masih tergolong baru, MFA langsung mengambil langkah dengan menggelar festival sepak bola usia dini sebagai bagian dari upaya membangun kegiatan pembinaan yang berkelanjutan.

Dalam turnamen tersebut, SSB Santika dari Santiong Kalumpang keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua ditempati SSB Tunas Retox, disusul SSB Nuku Junior sebagai juara ketiga, sementara tuan rumah Marijang Football Academy (MFA) Tidore berada di posisi keempat.

Ketua MFA Tidore, Gunawan Nurhasan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah ambil bagian dalam Marijang Fest 2026. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak hanya dilihat dari siapa yang keluar sebagai juara, tetapi juga dari pengalaman yang diperoleh anak-anak selama mengikuti pertandingan.

“Selamat kepada seluruh tim yang telah meraih prestasi. Bagi kami, seluruh peserta adalah bagian penting dari Marijang Fest karena telah ikut meramaikan dan menyukseskan kegiatan ini,” kata Gunawan.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para pemain, pelatih, ofisial, tim medis, orang tua, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan hingga selesai. Menurutnya, setiap pertandingan memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak untuk belajar tentang disiplin, kerja sama, menghargai lawan, menerima hasil pertandingan, dan terus berkembang.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat yang dibangun MFA melalui prinsip Discipline, Respect, Excellence. Bagi MFA, sepak bola usia dini bukan semata-mata tentang mengejar kemenangan, melainkan menjadi salah satu sarana untuk membentuk karakter anak melalui proses latihan dan pertandingan.

Gunawan berharap Marijang Fest dapat menjadi awal dari berbagai kegiatan pembinaan yang akan dilakukan MFA Tidore ke depan. Ia menegaskan bahwa berakhirnya festival bukan berarti berakhir pula proses yang sedang dibangun.

“Kami tidak ingin Marijang Fest berhenti hanya sampai di sini. Ini adalah awal dari perjalanan MFA Tidore. Kami ingin terus belajar, terus berbenah, dan menghadirkan kegiatan yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh melalui sepak bola,” ujarnya.

“Kami percaya, dari lapangan-lapangan kecil seperti ini akan lahir anak-anak yang memiliki karakter, disiplin, rasa hormat, dan semangat untuk menjadi lebih baik. Karena bagi kami, sepak bola bukan hanya tentang mencetak pemain, tetapi juga tentang membangun manusia,” tutup Gunawan. (On)