TIMES MALUT – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) di era digital dinilai membawa dampak positif sekaligus negatif bagi dunia jurnalistik.
Teknologi ini dianggap mampu membantu efisiensi kerja wartawan, tetapi juga berisiko menurunkan kualitas dan keterampilan jurnalis jika digunakan secara berlebihan.
Koordinator Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen Ternate, Nurkholis Lamaau, mengatakan AI membantu mempercepat berbagai tahapan dalam proses jurnalistik, terutama dalam penulisan berita.
“Dalam setiap proses kerja jurnalistik itu kan berbagai tahapan yang tadinya cukup panjang bisa diringkas. Misalnya pola penulisan yang tidak rapi atau belum mengikuti kaidah 5W+1H, ketika dikonversi ke AI secara otomatis struktur kalimat, tata bahasa, sampai gramatikanya bisa dirapikan,” kata Nurkholis saat dikonfirmasi di Ternate, Kamis, 14 Mei 2026.
Menurut dia, AI juga dapat menyesuaikan gaya penulisan sesuai karakter media tertentu. Wartawan hanya perlu memasukkan bahan berita dan instruksi format penulisan yang diinginkan.
“Ketika bahannya kita kirim lalu diperintah untuk diolah dalam versi media tertentu, hasilnya langsung tersusun rapi,” ujarnya.
Selain membantu penulisan, AI juga dinilai efektif mendeteksi kesalahan teknis seperti typo dan susunan kalimat yang kurang baik.
Meski demikian, Nurkholis mengingatkan penggunaan AI secara berlebihan dapat memunculkan fenomena “jurnalisme malas”. Sebab, wartawan dinilai bisa terlalu bergantung pada teknologi dan tidak lagi mendalami proses jurnalistik secara serius.
“Karena semuanya sudah dibantu AI, akhirnya orang tidak banyak bergelut dalam proses jurnalistiknya. Ini yang kemudian melahirkan jurnalisme malas,” katanya.
Ia juga menyoroti AI kerap menutupi kelemahan kemampuan menulis seseorang. Wartawan yang sebelumnya memiliki kualitas penulisan kurang baik bisa terlihat lebih rapi setelah menggunakan AI, meski kemampuan dasarnya tidak berubah.
Menurut Nurkholis, AI masih memiliki keterbatasan, terutama dalam memahami konteks lokal dan istilah daerah. Karena itu, hasil olahan AI tetap harus diverifikasi secara berlapis.
Ia mencontohkan kasus kesalahan pemberitaan terkait calon kepala daerah di Maluku Utara yang sempat ramai diperbincangkan publik. Kesalahan itu diduga terjadi akibat penggunaan AI tanpa pengecekan menyeluruh.
“AI memang membantu memfilter typo dan tata bahasa, tetapi tidak semua informasi mampu diterjemahkan dengan benar, apalagi istilah-istilah lokal,” ujarnya.
Nurkholis menegaskan penggunaan AI dalam dunia jurnalistik tetap harus disertai pengawasan manusia agar tidak mengurangi integritas, kualitas, dan keterampilan jurnalis.
“Kalau semuanya di-handle AI, maka kemampuan seorang jurnalis pada akhirnya bisa runtuh secara perlahan,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan