TIMES MALUT – Upaya rekonsiliasi pascakonflik antarwarga mulai terbangun di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Pertemuan antara warga Desa Sibenpopo dan Desa Banemo digelar di bawah tenda sederhana di tengah kampung, beberapa hari setelah insiden pembakaran rumah yang sempat memicu ketegangan.

Pertemuan tersebut dihadiri warga kedua desa, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Wakil Gubernur Sarbin Sehe, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Bupati Halmahera Tengah Ikram Malan Sangaji.

Dialog dilakukan untuk meredakan ketegangan, mencegah konflik lanjutan, serta memulihkan hubungan sosial yang sempat retak akibat kesalahpahaman dan emosi.

Melalui pendekatan dialog langsung, pemerintah daerah menegaskan komitmen bersama untuk mengakhiri siklus balas dendam dan membangun kembali hubungan yang harmonis.

Suasana pertemuan berlangsung hangat namun penuh haru. Warga dari kedua desa duduk berdampingan, meskipun sebagian masih menyimpan kesedihan akibat konflik yang terjadi.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda hadir langsung di tengah masyarakat dengan pendekatan humanis. Ia menyapa warga satu per satu dan berjabat tangan sebagai bentuk empati serta dukungan moral.

Dalam arahannya, Sherly menekankan pentingnya mengedepankan nilai persaudaraan dan menghentikan siklus balas dendam,“Hati itu harus ikhlas, harus memaafkan, tidak boleh ada dendam, harus ada kasih,” ujar Sherly, Kamis, 9 April 2026.

Ia mengingatkan bahwa konflik hanya membawa kerugian bagi semua pihak. Rumah yang dibangun dalam waktu lama dapat hancur akibat emosi dan informasi yang belum tentu benar.

“Kalau kita saling balas, konflik akan semakin panjang. Dan yang rugi adalah kita semua,” katanya.

Sherly juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan lebih berhati-hati dalam bertindak.

“Kita tidak bisa mengontrol orang lain, tetapi kita bisa mengontrol reaksi kita. Jangan menghukum tanpa bukti, dan jangan bertindak dengan emosi,” tuturnya.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, lanjut Sherly, berkomitmen membantu proses pemulihan, termasuk pembangunan kembali rumah warga yang terdampak konflik.

“Nanti urusan rumah kalian menjadi tanggung jawab saya dan Pak Bupati,” ujarnya.

Ia menilai pertemuan tersebut menjadi ruang rekonsiliasi yang membuka harapan baru bagi kedua desa untuk kembali hidup damai. Tanda-tanda perdamaian mulai terlihat dari sikap warga yang menunjukkan keinginan mengakhiri konflik dan membangun kembali kebersamaan.

Dengan semangat persaudaraan, pemerintah berharap proses pemulihan dapat berjalan cepat sehingga kondisi sosial masyarakat kembali stabil.(*)