Saat Sherly dilantik pada 20 Februari 2025, keraguan melanda bumi moloku kie raha. Ia bukan birokrat, bukan pemimpin lama, bukan politisi ulung—hanya seorang ibu (single parent), wirausahawati yang maju di tengah kesedihan mendalam. Bagai bara membara di abu beku, ia menyala. Setahun kemudian, Maluku Utara tak lagi suram: Bumi Moloku Kie Raha terbangun, namanya bergaung seperti gema ombak besar ke seluruh nusantara.

Sherly laksana mercusuar kokoh di karang tajam. Pancarannya bukan hanya menyinari gugusan pulau berpencar, melainkan juga kegelapan abadi pembangunan di timur Indonesia—kawasan yang kerap terabaikan seperti bayang hantu malam.

Langkahnya dalam setahun ini mengubah skeptisisme menjadi api harapan yang membara hangat, tak berlebih.

Di balik pancaran itu, tersembunyi sisi kemanusiaan halus. Tiga anak remajanya yang sedang bertumbuh rindu kehadirannya di Jakarta. Hampir tiap pekan ia melintas udara, menghubungkan Sofifi, Ternate, dengan kediaman di Menteng—antara agenda rapat gubernur, dialog dengan masyarakat, pengusaha nasional, menteri, serta kewajiban mendengar kisah harian buah hatinya. Waktu terpecah seperti gelombang memecah karang, tapi jiwa tetap tegar. “Mereka mengerti,” ucapnya lirih, “mamanya berjuang untuk hal yang lebih mulia,” tutur Sherly. Tanpa rintih, hanya ketabahan bagai akar bakau yang mencengkeram lumpur.

Ekonomi meroket 39,1 persen—puncak tertinggi nasional, seperti gunung api meletus dahsyat. Nikel memicu ledakan, tapi Sherly yang memandu nyala: pendidikan gratis, beasiswa melimpah, pelatihan vokasi bersama Microsoft, gudang pendingin untuk hasil tangkapan nelayan, ladang sawah baru, pabrik-pabrik segar. Kemiskinan merosot ke 5,81 persen, pengangguran ke 4,55 persen, rasio Gini melunak seperti angin sepoi lembut. IPM melambung. Bukan sekadar bilangan—ia menghitung mimpi bagi Maluku Utara, bagai bintang yang mulai menyinari langit gelap.

Kesehatan kini bernapas bebas seperti hembusan angin laut segar. Di bulan perdana, dua rumah sakit ditingkatkan: Taliabu dan Halmahera Timur. UHC merangkul 98 persen—475 ribu warga terlindungi tanpa bayar. Beban utang lama terkikis seperti pasir pantai terkikis ombak, kondisi fiskal menguat, catatan medis digital bermunculan. Penduduk pulau tak lagi bergantung perahu panjang; pelayanan tiba bagai hembusan angin segar, menyegarkan jiwa yang letih.

Inflasi sempat oleng—4,86 persen di awal 2026, seperti ombak ganas menghantam karang. Tapi Sherly tak berdiam. Kios Sigap menjamur, subsidi transportasi antarpulau mengalir, jaringan pasok diperkokoh. Harga masih menyakitkan bagi rumah tangga rendah, tapi tanpa campur tangannya, lukanya lebih parah. Ia muncul—seperti lentera di tengah amuk badai, menerangi jalan gelap yang licin.

Korupsi era silam terbuang bagai reruntuhan usang yang roboh. Kejaksaan dan KPK diundang kolaborasi, birokrasi dibina ketat, skor MCP melesat dari 71 (pernah 34) ke 90 persen. Jaksa Garda Desa tercipta—dengan sasaran nihil penyimpangan. Ia tak suka mengelak; Sherly malah membuka gerbang pengawasan selebar mungkin, bagai pintu terbuka menyambut angin perubahan segar.

Tak terduga, dana transfer pusat terpotong drastis—DAK dan DAU nyaris sirna seperti kabut pagi yang lenyap. Sherly tak pasrah nasib. Ia pandai menyusun siasat. Dengan jaringan luasnya, ia kerap berkelana ke Jakarta, mengetuk pintu kementerian: Pertanian, PUPR, Kesehatan, Kehutanan, Perhubungan, Perikanan, DPR, dan lainnya. Bibit padi, peralatan mekanisasi, irigasi, pabrik anyar, alat tangkap—semua mengalir tanpa menyentuh APBD yang amat terbatas. Pintar dan gigih, ia tak pernah menyerah, bagai sungai yang terus mengalir deras.

Di medan nyata, ia bukan gubernur biasa—ia ibu bagi semuanya, pelukan hangat bagi rakyat yang dingin. Mendistribusikan bantuan, memeriksa proyek, menegur kontraktor, pemasok, bawahan, sambil menyimak curhatan petani, nelayan, pelajar, hingga pengunjuk rasa. Ucapannya langsung dan mudah, pandangannya tajam seperti mata elang. Ia faham makna hujan bocor dari atap seng, kulkas hampa, jalan rusak, dapur kotor bagi para mama, atau susahnya anak menempuh sekolah jauh. Ia senantiasa tersenyum, penuh gairah, bercanda, tapi solutif, walau kelelahan menyelimuti seperti selimut malam tebal.

Satu tahun hanyalah hembusan awal, seperti fajar yang baru menyingsing pelan. Ancaman masih mengintai: dampak tambang, peningkatan PAD, musibah alam, pulau terpencil dengan akses minim, dunia yang tak menentu. Tapi pondasi telah tegak—pertumbuhan merata, kesehatan maju, pemerintahan semakin suci. Keadilan sosial mulai terwujud seperti cahaya pagi yang hangat. Masih tersisa empat tahun untuk tuntaskan janji, tapi benih telah ditanam dalam.

Tapi Maluku Utara tak lagi sabar menanti seperti daun kering menunggu hujan deras. Ia telah terjaga. Rakyatnya menyadari: harapan ini bukan fatamorgana—mereka punya Sherly, pelita yang tak pernah padam. Ia telah mengilhami ribuan pemuda Maluku Utara, membangkitkan semangat seperti angin yang mendorong layar kapal.

Seperti sabda Mandela, “It always seems impossible until it is done.” Dan di Bumi Kie Raha ini, yang tak mungkin telah digapai seperti mimpi yang jadi nyata tajam. Mercusuar terus bersinar—untuk buah hatinya di Jakarta, nelayan di Halmahera, Taliabu hingga Bacan, bagi setiap roh yang pernah ragu. Maluku Utara bukan lagi sekumpulan pulau—ia adalah hembusan kebangkitan dahsyat. Dan kisah itu baru bermula.