TIMES MALUT  – Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat digitalisasi dan memperluas pasar ekspor melalui program Serangkaian Kurasi UMKM dan Wirausaha Unggulan BI (SERUMBI) 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Maitara Kantor Perwakilan BI Provinsi Maluku Utara, Senin, 11 Mei 2026, itu dibuka Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara yang diwakili Asisten II Setda Sri Haryanti Hatari.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Perwakilan BI Maluku Utara Handi Susila, Kepala BPOM Maluku Utara, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Maluku Utara Wa Zahariah, unsur pemerintah daerah, perbankan, akademisi, dan pelaku UMKM.

Kepala Perwakilan BI Maluku Utara Handi Susila mengatakan digitalisasi menjadi langkah penting bagi UMKM di Maluku Utara untuk mengatasi keterbatasan wilayah kepulauan.

Menurut dia, BI juga terus mendorong pengembangan produk unggulan daerah, seperti kopi rempah dan wastra khas Maluku Utara, agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Kenapa kita tidak mencoba dengan kopi rempah? Ini sudah jadi ciri khas Ternate dan Maluku Utara,” ujar Handi.

Sementara itu, Asisten II Setda Maluku Utara Sri Haryanti Hatari mengatakan SERUMBI 2026 merupakan upaya nyata BI dan pemerintah daerah untuk memperkuat daya saing UMKM.

Ia menyebutkan terdapat tiga fokus utama program tersebut, yakni perluasan akses digital, penguatan akses pembiayaan, dan pengembangan potensi ekspor.

Pemprov Maluku Utara, kata dia, juga menyalurkan bantuan modal usaha Rp3 juta hingga Rp15 juta dengan bunga 0,01 persen bagi pelaku UMKM di Sofifi dan Ternate.

Selain itu, pemerintah mendorong produk lokal, seperti kopi rempah, hasil laut, dan kerajinan, memiliki standar dan sertifikasi agar dapat menembus pasar ekspor.

Berdasarkan data pemerintah daerah, Maluku Utara memiliki sekitar 195.000 UMKM dengan dominasi usaha mikro yang menyerap hampir 585.000 tenaga kerja.

Sri Haryanti mengatakan sektor UMKM perlu terus diperkuat agar menjadi penopang ekonomi daerah di tengah dominasi sektor pertambangan,” Digitalisasi sekarang bukan pilihan, tapi keharusan,” kata Sri Haryanti.(*)