TIMES MALUT – Semangat literasi dan kebudayaan lokal kembali dihidupkan oleh Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tidore Kepulauan melalui penyelenggaraan kegiatan Lefo Tidore: Membaca dan Menulis Tidore di Kampung Simore Ramadan, Tanjung Gamgau, Kelurahan Mafututu, Kecamatan Tidore Timur.
Kegiatan yang mengusung semangat “The Spirit of Iqra” ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai Sabtu hingga Senin, 7–9 Maret 2026, bertepatan dengan 17–19 Ramadan 1447 Hijriah. Berbagai agenda literasi disiapkan untuk menghidupkan tradisi membaca dan menulis sekaligus menggali kembali cerita serta sejarah lokal Tidore.
Ketua Panitia Penyelenggara, Ariyanto A. Gani, mengatakan bahwa kehadiran Lefo Tidore merupakan bagian dari upaya KNPI Tidore dalam menumbuhkan kesadaran literasi di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.
Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk merawat ingatan kolektif masyarakat Tidore melalui cerita rakyat, sejarah kampung, hingga refleksi kebudayaan lokal.
“Lefo Tidore kami rancang sebagai ruang literasi yang hidup di tengah masyarakat. Di sini orang bisa membaca buku, belajar menulis, mendengar cerita rakyat, hingga mendiskusikan sejarah dan identitas Tidore. Semangatnya adalah menghidupkan kembali tradisi baca dan tulis masyarakat kampung,” ujar Ariyanto.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini akan dibuka pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 15.00 WIT, yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai agenda literasi sepanjang pelaksanaan kegiatan.
Beberapa program utama yang akan digelar antara lain pameran buku dan baca buku gratis yang berlangsung setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 24.00 WIT. Selain itu, panitia juga menghadirkan sejumlah kelas menulis yang mengangkat tema-tema dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pada hari pertama, peserta akan mengikuti kelas menulis bertema “Memoar Ramadan di Kampung Halaman”, yang mengajak generasi muda menuliskan pengalaman dan kenangan Ramadan mereka. Malam harinya akan digelar Tadarus Puisi, sebuah ruang ekspresi sastra yang memadukan suasana Ramadan dengan pembacaan karya puisi.
Memasuki hari kedua, kegiatan akan dilanjutkan dengan kelas menulis bertema “Cerita Rakyat Tidore”, yang bertujuan menggali dan mendokumentasikan kembali kisah-kisah lokal yang hidup di tengah masyarakat. Pada malam hari, masyarakat juga akan diajak mengikuti Bacarita Tradisi Baca dan Tulis Orang Tidore, yang mengangkat budaya literasi dalam sejarah masyarakat Tidore.
Sementara pada hari terakhir, kegiatan akan menghadirkan Tadarus Buku bertajuk “Tanpa Tidore, Indonesia Tidak Ada Pilar Timur”, sebuah forum diskusi yang mengulas peran historis Tidore dalam perjalanan bangsa. Agenda penutup akan diisi dengan Bacarita Sejarah Kampung Mafututu, yang menggali sejarah lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat setempat.
Ariyanto menambahkan bahwa kegiatan ini terbuka bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda yang ingin terlibat dalam gerakan literasi di kampung.
“Ramadan adalah momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan yang menyejukkan sekaligus mencerdaskan. Kami ingin menjadikan kampung sebagai pusat pergerakan literasi, tempat orang berkumpul, membaca, berdiskusi, dan merawat cerita tentang Tidore,” katanya.
Selain menghadirkan berbagai kegiatan literasi, panitia juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi melalui donasi takjil selama kegiatan berlangsung sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi Ramadan tersebut.
Dengan kolaborasi berbagai komunitas dan organisasi yang turut mendukung kegiatan ini, Lefo Tidore diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara literasi, tradisi, dan semangat kepemudaan yang tumbuh dari kampung, sekaligus memperkuat kembali budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat Tidore. (On)

Tinggalkan Balasan