Times Malut – Kegiatan literasi Lefo Tidore di Kampung Simore Ramadan yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tidore kembali berlanjut pada hari ketiga dengan menghadirkan sesi Tadarus Buku.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 9 Maret 2026 di Tanjung Gamgau, Kelurahan Mafututu, Tidore Kepulauan, dan dimulai pukul 15.00 WIT. Dalam sesi tersebut panitia menghadirkan dua narasumber, yakni M. Hafid Ismail dan Iswan Dukomalamo.

Diskusi buku ini mengangkat tema “Tanpa Tidore, Indonesia Tidak Ada Pilar Timur.” Buku yang akan dibahas merupakan karya kedua narasumber tersebut yang mengulas posisi strategis Tidore dalam sejarah Nusantara serta perannya dalam memperkuat pilar Indonesia di kawasan timur.

Ketua Panitia Lefo Tidore, Ariyanto A. Gani, mengatakan bahwa sesi Tadarus Buku merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang literasi yang terbuka bagi masyarakat selama bulan Ramadan.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan karya penulis lokal, tetapi juga menjadi sarana belajar bersama untuk memahami sejarah dan identitas Tidore secara lebih mendalam.

“Melalui Tadarus Buku ini kami ingin menghidupkan tradisi membaca dan berdiskusi di tengah masyarakat. Generasi muda perlu mengetahui bagaimana peran besar Tidore dalam perjalanan sejarah Indonesia,” ujar Ariyanto.

Ia menambahkan, Lefo Tidore di Kampung Simore Ramadan dirancang sebagai ruang pertemuan antara literasi, budaya, dan diskusi publik yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Buku “Tanpa Tidore, Indonesia Tidak Ada Pilar Timur dari Sabang Sampai Merauke” sendiri mengangkat peran penting Kesultanan Tidore dalam membentuk Indonesia modern. Mulai dari pengaruh historisnya atas wilayah Papua hingga kontribusi dalam masa perjuangan kemerdekaan, Tidore digambarkan bukan sekadar “pulau rempah”, tetapi sebagai salah satu pilar penting bangsa di kawasan timur yang kerap terlupakan dalam narasi sejarah nasional.

Melalui diskusi buku tersebut, panitia berharap masyarakat—khususnya generasi muda di Kelurahan Mafututu dan sekitarnya—dapat lebih mengenal sejarah serta peran strategis Tidore dalam perjalanan bangsa, sekaligus menumbuhkan kembali semangat literasi di tengah masyarakat. (On)