Oleh: Fandi Uno
Coach Majui United (Mafututu)
Setelah cukup lama tenggelam, ajang sepak bola antarkelurahan dan instansi di Kecamatan Tidore Timur akhirnya kembali hadir lewat Fomasigaro Cup 2025. Turnamen ini tidak sekadar mengisi agenda olahraga, tetapi memanggil kembali semangat kolektif yang sempat lama hilang bahwa sepak bola adalah milik masyarakat.
Turnamen ini menjadi panggung kebangkitan, terutama bagi generasi muda Tidore Timur yang selama ini kehilangan ruang untuk menunjukkan kemampuannya dalam atmosfer kompetisi yang sehat.
Sebagai salah satu tim peserta (partisipan), Majui United menyambut antusias kembalinya turnamen ini. Namun bersamaan dengan itu, kami juga membawa harapan agar Fomasigaro Cup tidak sekadar berjalan secara teknis, melainkan juga tumbuh dengan ruh sportivitas, ketegasan, dan keadilan.
Kami percaya bahwa penyelenggaraan turnamen bukan hanya soal jadwal dan skor, tetapi juga soal bagaimana nilai-nilai itu dijaga dan ditegakkan. Karena itulah, Saya merasa perlu menyampaikan catatan atas insiden yang terjadi dalam pertandingan Majui United vs Putnus FC pada Senin, 23 Juni 2025.
Setelah tim kami mencetak gol, yang dinilai sah oleh wasit dan terjadi dalam situasi permainan terbuka, seorang pemain cadangan dari tim lawan masuk ke lapangan. Ia tidak hanya memprotes keputusan wasit secara langsung, tetapi juga memprovokasi reaksi dari suporter mereka untuk mendesak agar gol tersebut dianulir.
Tekanan terhadap wasit terjadi secara terbuka. Suasana pertandingan menjadi tegang dan penuh intimidasi verbal. Tetapi yang paling kami sesalkan adalah: tidak ada tindakan disiplin di tempat dari Panitia Pelaksana maupun dari Komisi Disiplin.
Padahal regulasi Fomasigaro Cup 2025 telah memberikan rumusan yang sangat jelas dan tegas. Dalam Pasal 4 ayat 2, disebutkan bahwa “Setiap Tim bertanggung jawab terhadap
tingkah laku dari Pemain, Ofisial, fans/penonton dan setiap orang yang terkait dengan Tim tersebut selama penyelenggaraan Fomasigaro Cup 2025.” Dalam kasus kami, pemain cadangan yang statusnya tetap bagian dari tim masuk lapangan tanpa izin dan menciptakan ketegangan. Artinya, tanggung jawab tidak bisa hanya dibebankan secara individual, melainkan kepada tim sebagai satu kesatuan.
Lebih jauh lagi, Pasal 21 ayat 6 bahkan menyebutkan: “Jika tindakan yang dilakukan oleh pemain, ofisial, dan supporter tim/klub dapat memicu keonaran/konflik yang besar dan sistemik, maka tim tersebut akan didiskualifikasi oleh Komisi Disiplin.” Kami tidak ingin berpolemik soal sanksi, tetapi kami merasa ada kekosongan sikap dalam situasi yang seharusnya bisa ditangani secara tegas.
Setidaknya, pertandingan perlu dihentikan sementara, pemain yang melanggar ditindak, dan laporan resmi disusun. Sayangnya, semua
itu tidak terjadi. Kami tidak ingin menuduh siapa pun. Kami tahu bahwa panitia telah bekerja keras, bahkan dengan keterbatasan sumber daya.
Tapi dalam semangat yang sama, kami juga ingin menyampaikan bahwa ketegasan terhadap pelanggaran bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bentuk tanggung jawab. Terlebih, dalam turnamen yang dikembalikan untuk membina dan menyemai generasi muda, penegakan aturan adalah bentuk pendidikan terbaik.
Komisi Disiplin Fomasigaro Cup, sebagaimana disebut dalam Pasal 18 regulasi, dibentuk” untuk menjaga kedisiplinan seluruh tim dan komponen pertandingan, serta menetapkan sanksi kepada tim yang melakukan pelanggaran.” Kami percaya peran ini tidak dimaksudkan untuk hadir hanya dalam kasus kekerasan fisik atau insiden besar yang viral. Bahkan pelanggaran kecil, bila dibiarkan, dapat menciptakan ruang permisif yang berbahaya bagi kualitas turnamen.
Kami percaya bahwa momentum kembalinya Fomasigaro Cup bisa menjadi titik tolak lahirnya kembali ekosistem sepak bola Tidore Timur yang lebih baik. Tapi kebangkitan itu hanya akan berarti jika nilai-nilainya dijaga bersama. Jika pelanggaran dibiarkan karena alasan pragmatis seperti “agar pertandingan tetap berjalan”, maka lambat laun, publik akan kehilangan kepercayaan terhadap integritas penyelenggaraan.
Kami dari Majui United tidak menggugat hasil pertandingan. Kami hanya ingin memastikan bahwa insiden seperti ini tidak menjadi kebiasaan. Jika turnamen ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, maka fondasinya harus dibangun dengan tegaknya aturan. Itulah warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada para pemain muda yang hari ini bermain dengan semangat tinggi di Lapangan Dowora.
Kami mengajak panitia dan Komisi Disiplin untuk melakukan evaluasi terhadap kejadian kemarin. Tidak untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk mengingatkan kita semua:
bahwa sepak bola, sebesar atau sekecil apapun levelnya, tetap harus dijaga martabatnya.
Karena saat aturan diabaikan, maka yang kalah bukan hanya satu tim, melainkan seluruh ekosistem permainan itu sendiri.***

Tinggalkan Balasan