TIMES MALUT – Di tengah semangat yang mulai tumbuh dari akar rumput, Pemuda Kelurahan Dowora bersiap mencatat sejarah baru. Sebuah perhelatan olahraga lahir dari inisiatif anak-anak mudanya, bukan sekadar kompetisi, tetapi gerakan yang membawa harapan. Harapan bahwa sepak bola bisa menyatukan, membangkitkan kembali semangat gotong royong, serta menggerakkan masyarakat dari dalam.
Inilah FOMASIGARO CUP 2025, turnamen gawang sedang tingkat Kecamatan Tidore Timur yang digagas oleh Forum Komunikasi Generasi Muda Kelurahan Dowora (FOMASIGARO) memanfaatkan keberadaan lapangan yang sudah tidak digunakan lebih dari puluhan tahun lalu untuk menghadirkan lebih banyak pasang mata.
“Lebih dari sekadar pertandingan, ini adalah penanda kebangkitan peran pemuda dalam menyatukan masyarakat lewat semangat sportivitas. Turnamen ini bukan datang dari luar—melainkan lahir dari suara-suara kecil yang selama ini diam, kini bersatu menyuarakan perubahan melalui olahraga,” ujar Norfa A. Yusuf Sekretaris Pemuda Dowora sekaligus Sekretaris Panitia Pelaksana, Minggu, 8 Juni 2025.
Rencananya, FOMASIGARO CUP 2025 akan resmi dibuka pada Sabtu, 14 Juni 2025 oleh Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen.
Sebuah momentum penting tidak hanya bagi panitia, tetapi juga seluruh warga Dowora. Pembukaannya nanti akan menandai awal dari sebuah langkah baru yang tumbuh dari semangat pemuda, kerja keras kolektif, dan keyakinan bersama bahwa lapangan Dowora sudah saatnya harus dimanfaatkan dan ditingkatkan fasilitas pendukungnya untuk mendobrak semangat generasi muda di Kelurahan Dowora maupun di kelurahan lainnya se-Kecamatan Tidore Timur.
Norfa menyampaikan, Turnamen ini mengusung filosofi “One Ball, One World” (Satu Bola, Satu Dunia), sebuah semboyan yang menjadi jiwa dari seluruh kegiatan. Bagi panitia dan seluruh pemuda Dowora, filosofi ini bukan hanya slogan, melainkan pernyataan nilai.
Menurutnya “Satu Bola, Satu Dunia” menggambarkan bagaimana sebuah benda seperti bola bisa menjadi alat pemersatu lintas usia, latar belakang, suku, bahkan perbedaan pilihan dan pandangan hidup. Dalam permainan sepak bola, semua orang berdiri setara di atas lapangan. Tidak ada status sosial yang memisahkan. Yang ada hanyalah semangat, kerja sama, dan tujuan bersama.
“Filosofi ini juga mencerminkan harapan bahwa olahraga bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga ruang edukasi sosial. Dari pertandingan, para pemain dan penonton belajar tentang kerja tim, kejujuran, disiplin, dan menghargai lawan. Di balik gol yang tercipta, ada semangat kerja sama. Di balik peluit wasit, ada aturan yang harus dihormati bersama. Dan di balik sorakan penonton, ada kekuatan komunitas yang hadir dan terlibat.
“Dunia” yang dimaksud dalam filosofi ini bukan dunia fisik semata, tetapi dunia kebersamaan dan nilai-nilai yang terbangun dari lapangan hijau—dunia yang lebih inklusif, lebih adil, dan lebih penuh empati. Dari satu bola, muncul ruang baru tempat masyarakat saling mengenal, saling mendukung, dan saling belajar,” terang Norfa.
Dirinya menegaskan, bahwa Filosofi ini menjadi jawaban atas kebutuhan zaman: bahwa di tengah banyaknya perpecahan, pemuda bisa menawarkan ruang bersatu lewat kegiatan yang menyenangkan namun bermakna. Dalam lapangan yang hanya berukuran beberapa meter, terbentuk dunia kecil yang mencontohkan apa yang seharusnya terjadi dalam masyarakat luas.
“Sepak bola menjadi bahasa universal yang bisa dimengerti siapa saja—menyatukan mereka yang mungkin berbeda pandangan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah kekuatan dari filosofi “Satu Bola, Satu Dunia”: bahwa dari hal kecil, dari satu pertandingan, bisa lahir nilai-nilai besar seperti saling menghargai, keadilan, dan solidaritas. Dunia kecil di lapangan itu mengajarkan bahwa harmoni bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa dibangun jika ada kemauan untuk bergerak bersama. Filosofi ini juga menantang para pemuda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika sosial, tetapi menjadi pelaku—menjadi penggerak yang berani mengambil peran, sekecil apa pun. Turnamen ini menjadi bukti bahwa dari satu bola yang menggelinding, bisa terbuka jalan menuju perubahan, ” tegasnya.
Sebagai Sekretaris Pemuda Kelurahan Dowora sekaligus Sekretaris Panitia Turnamen, Norfa menyampaikan rasa bangga atas kerja kolektif yang telah terbangun selama proses persiapan turnamen.
“Kami ingin menghadirkan suasana baru di Dowora. Turnamen ini bukan soal menang atau kalah, tapi tentang keberanian untuk bersatu, bergerak, dan memberi arti. Ini langkah awal, dan kami ingin menjadikannya sesuatu yang terus berlanjut dari tahun ke tahun,” tuturnya.
Norfa menambahkan Antusiasme luar biasa akan menyertai penyelenggaraan ini. Sebanyak 40 tim telah resmi terdaftar—terdiri dari 23 tim kategori umum dan 17 tim kategori U-16. Ini menjadi bukti bahwa FOMASIGARO CUP bukan hanya milik Panitia dan pemuda Dowora, tapi milik seluruh masyarakat di Kecamatan Tidore Timur.
“Kami ingin membuktikan bahwa bahwa turnamen ini adalah ruang aktualisasi bagi pemuda—bukan hanya dalam konteks olahraga, tapi juga dalam hal kepemimpinan, organisasi, dan komunikasi sosial. Pemuda bisa menjadi motor perubahan. Kami belajar membangun jaringan, mengorganisir kegiatan, hingga menyatukan berbagai elemen masyarakat. Semua ini adalah proses belajar yang sangat berharga,” jelasnya.
Dirinya menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak—dari tokoh masyarakat, pemerintah kelurahan, hingga warga yang ikut membantu menyiapkan Turnamen ini.
“Semangat gotong royong inilah yang membuat kami yakin bahwa Dowora siap melangkah lebih jauh. Turnamen yang berlangsung pada 14 Juni 2025 di lapangan Dowora akan menjadi ruang bersama—penuh semangat, suara sorak perjuangan para pemain, dan kebersamaan warga yang hadir menyaksikan dapat menghadirkan suasana bermakna dan menyatukan. Kami ingin turnamen ini menjadi simbol silaturahmi dan bukti bahwa pemuda bisa memimpin perubahan dari sepak bola, membawa harapan dan membangun solidaritas,”tutupnya.***

Tinggalkan Balasan