TIMES MALUT – Memasuki hari kedua kegiatan Lefo Tidore di Kampung Simore Ramadan, Tanjung Gamgau, Kelurahan Mafututu, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tidore Kepulauan menggelar sesi Bacarita Tidore dengan tema “Tradisi Baca-Tulis Orang Tidore.”
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026 pukul 21.00 WIT tersebut menghadirkan Rusly Saraha, pegiat literasi sekaligus Anggota Bawaslu Provinsi Maluku Utara, sebagai narasumber.
Ketua Panitia Penyelenggara, Ariyanto A. Gani, menyampaikan bahwa Bacarita Tidore dirancang sebagai ruang percakapan yang mempertemukan generasi muda dengan gagasan-gagasan literasi, khususnya yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan perjalanan masyarakat Tidore.
“Melalui Bacarita ini kami ingin membuka ruang diskusi tentang tradisi baca-tulis orang Tidore serta mendorong generasi muda untuk mulai menulis tentang daerahnya sendiri,” ujar Ariyanto.
Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan diskusi, tetapi juga menjadi upaya untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual masyarakat Tidore yang sejak dahulu dikenal memiliki kekayaan sejarah, naskah, dan kisah-kisah yang diwariskan secara turun-temurun.
Rusly Saraha sendiri dikenal aktif dalam berbagai kegiatan literasi di Maluku Utara. Selain berkiprah sebagai Anggota Bawaslu Provinsi Maluku Utara, ia juga dikenal sebagai penulis yang kerap mengangkat sejarah dan tokoh-tokoh dari kawasan Maluku Utara.
Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah buku “Tokoh Inspiratif Jazirah Raja-Raja, Kisah Menentang Kolonialisme,” yang mengangkat kisah perjuangan sejumlah tokoh di kawasan Maluku Utara dalam melawan kolonialisme.
Dalam forum Bacarita tersebut, peserta diajak melihat kembali bagaimana tradisi membaca dan menulis sebenarnya telah lama menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Tidore, baik melalui naskah-naskah lama, catatan sejarah, maupun berbagai kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ariyanto juga mengajak generasi muda di Kota Tidore Kepulauan untuk turut hadir dan meramaikan kegiatan Lefo Tidore yang digelar di Kampung Simore Ramadan.
“Kami mengundang anak-anak muda Tidore untuk datang, berdiskusi, dan ikut meramaikan Lefo Tidore. Ini adalah ruang belajar bersama untuk membaca, berbagi gagasan, dan menulis tentang Tidore,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat literasi di kalangan anak muda sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak tulisan yang mengangkat sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Tidore. (On)

Tinggalkan Balasan