TIMES MALUT – Penyelenggaraan kegiatan sepak bola antar Sekolah Dasar (SD) yang memperebutkan Piala Wali Kota Tidore Kepulauan mendapat sorotan dari kalangan pegiat pembinaan sepak bola usia dini.
Perhatian tersebut terutama tertuju pada penggunaan nama “SD Super League” sebagai titel kompetisi yang dinilai tidak sepadan dan tidak kontekstual dengan tujuan pembinaan sepak bola anak-anak.
Kritik tersebut disampaikan oleh Suyono Sahmil, Sekretaris Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Timur, yang selama ini aktif dalam penyelenggaraan dan pengembangan kegiatan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Kota Tidore Kepulauan.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada pelaksanaan kegiatan yang dinilai positif, melainkan pada penamaan dan filosofi kompetisi yang perlu disesuaikan dengan dunia sepak bola usia dini.
Suyono menjelaskan, istilah “Super League” secara universal dipahami sebagai penanda kompetisi elite, identik dengan sepak bola profesional, serta berorientasi pada hasil, prestasi, dan industri olahraga. Dalam praktiknya, nomenklatur tersebut lazim digunakan untuk kompetisi kasta tertinggi yang menuntut standar teknis, fisik, dan mental yang tinggi.
“Makna Super League itu berat. Ia membawa nilai profesionalisme, tekanan hasil, dan gengsi prestasi. Itu tidak sejalan dengan karakter sepak bola usia SD,” ujar Suyono.
Sebaliknya, lanjut dia, sepak bola usia SD memiliki tujuan yang sangat berbeda. Pada level ini, pembinaan diarahkan pada pembelajaran dasar, pengenalan teknik awal, serta penanaman nilai sportivitas dan disiplin melalui suasana kegembiraan bermain (fun). Fokus utamanya bukan pada hasil pertandingan, melainkan pada proses tumbuh kembang anak dan pembentukan karakter.
Perbedaan mendasar tersebut, menurut Suyono, menjadikan penggunaan istilah “SD Super League” berpotensi mengaburkan tujuan pembinaan, sekaligus menggeser orientasi kegiatan dari ruang belajar menjadi arena kompetisi yang sarat tekanan prestasi.
Ia menegaskan, kritik tersebut tidak dimaksudkan untuk meniadakan apresiasi terhadap inisiatif pemerintah daerah. Turnamen Piala Wali Kota dinilai sebagai langkah positif dalam mendorong aktivitas olahraga di kalangan pelajar. Namun, agar berdampak jangka panjang, kegiatan tersebut perlu diselaraskan dengan filosofi pembinaan sepak bola anak.
Lebih lanjut, Suyono mendorong agar ke depan para pihak yang aktif membina SSB dilibatkan secara langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan kompetisi.
Menurutnya, SSB merupakan garda terdepan pembinaan sepak bola anak-anak melalui latihan rutin, pelatih yang kompeten, serta sistem pembinaan yang berjenjang.
“Ke depan, kompetisi seharusnya difokuskan pada antar Sekolah Sepak Bola, agar pembinaan lebih fokus, terarah, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam konteks itu, ia juga menilai penting adanya keberpihakan nyata pemerintah daerah terhadap SSB, salah satunya melalui penyelenggaraan Turnamen Resmi Tahunan antar SSB yang memperebutkan Piala Wali Kota Tidore Kepulauan.
Turnamen tahunan tersebut dipandang sebagai instrumen strategis untuk menjaga ekosistem pembinaan sekaligus mengukur hasil pembinaan secara sehat.
“Di situlah letak keberpihakan pemerintah. Ketika ada kompetisi resmi yang berkelanjutan, SSB tumbuh, pembinaan terjaga, dan anak-anak memiliki ruang kompetisi yang sesuai dengan usia mereka,” ungkapnya.
Meski menyampaikan kritik, Suyono tetap mengapresiasi niat baik pemerintah daerah dan panitia penyelenggara. Ia berharap masukan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan sepak bola usia dini di Kota Tidore Kepulauan ke depan semakin tepat sasaran, edukatif, dan berdampak nyata bagi masa depan sepak bola daerah.(*)

Tinggalkan Balasan