TIMES MALUT – Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus II Kota Tidore Kepulauan yang terdiri dari MIN 4 Tidore dan MIN 1 Tidore menggelar kegiatan bertajuk “Sosialisasi dan Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)” untuk mata pelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI) pada Tahun Pelajaran 2025/2026 yang berlangsung pada 11-13 Juli 2025.
Kegiatan ini resmi dibuka oleh Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kota Tidore Kepulauan, Saleh Husen. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perubahan kurikulum merupakan keniscayaan, namun esensinya tetap pada peningkatan kualitas pembelajaran agar berdampak langsung terhadap perkembangan peserta didik.
“Semua kurikulum dari masa ke masa selalu mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: bagaimana kita meningkatkan kualitas proses belajar agar menghasilkan peserta didik yang lebih unggul dan adaptif terhadap tantangan zaman,” ujarnya.
Beliau juga menekankan pentingnya dukungan dari seluruh madrasah terhadap Program Galatama (Gerakan Literasi Madrasah) yang dicanangkan Kanwil Kemenag Provinsi Maluku Utara, terutama pada penguatan literasi Bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia.
“Kami harap semua madrasah mendukung penuh Galatama, karena kemampuan literasi adalah kunci utama dalam penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern,” tambahnya.
Kepala MIN 4 Dowora Tekankan Transformasi Peran Guru
Sebagai tuan rumah kegiatan, Kepala MIN 4 Dowora, Rahma Abd. Rajak memberikan tanggapan atas pelaksanaan kegiatan ini. Ia menyambut baik tema yang diangkat dan melihatnya sebagai bentuk komitmen bersama untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.
“Kegiatan ini menjadi momen penting bagi kami para guru untuk menyegarkan kembali semangat pembelajaran. Deep Learning bukan sekadar metode baru, tetapi pendekatan yang menuntut kita untuk memahami secara lebih dalam bagaimana siswa belajar,” ungkap Rahma.
Ia juga menekankan pentingnya menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa, sehingga pembelajaran tidak hanya sekadar hafalan, tetapi mampu membentuk pola pikir kritis dan solutif.
“Pembelajaran mendalam berarti mengaitkan materi dengan konteks sehari-hari. Ini akan membantu siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan mereka,” jelasnya.
Menanggapi masuknya materi coding dan artificial intelligence (AI) dalam kurikulum madrasah, Rahma menilai ini sebagai langkah maju dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan zaman.
“Madrasah tidak boleh tertinggal. Justru kita harus menjadi pelopor dalam pendidikan berbasis teknologi, tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan KKG semacam ini terus dilakukan secara berkelanjutan, agar para guru madrasah memiliki bekal dan jejaring untuk terus beradaptasi dengan tuntutan zaman.
“Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk konkret dalam menyambut perubahan paradigma pendidikan, khususnya dalam penguatan pendekatan Deep Learning yang menekankan pembelajaran bermakna, kontekstual, dan membangun pola pikir kritis,”
“Dengan sinergi antara guru, kepala madrasah, dan Kementerian Agama, MIN 4 dan MIN 1 Tidore optimis menjadi bagian dari perubahan besar dalam sistem pendidikan madrasah yang lebih inovatif, kolaboratif, dan berdaya saing tinggi, ” tutup Rahma Abd. Rajak.

Tinggalkan Balasan