TIMES MALUT – Suyono Sahmil, Advokat sekaligus mantan Sekretaris DPD Komite Nasional  Pemuda Indonesia (KNPI) Ternate menilai pernyataan Muhammad Sinen terhadap para pendukung sebelum bertandang ke KPU Kota Tidore Kepulauan guna pencabutan nomor urut kandidat terlalu berlebihan.

Suyono bilang, ia mencatat potongan video pernyataan Muhammad Sinen yang beredar di grup WhatsApp dengan durasi 1.19 detik itu.

“Saya cuma himbau kalau ada yang mau merongrong kemenangan kita, nyawa kita menjadi taruhan. Ada yang bilang menang me dong lantik, kalah me dong lantik. Boleh dong lantik tapi Kapala tarada di badan kalau Torang menang,” kata Muhammad Sinen seperti dikutip dari video itu.

“Masa kalau Torang menang kemudian kemenangan itu dirampas masa Torang lipa-lipa tangan dan menonton orang ambil kemenangan itu, tara mungkin to. Saya tidak mengajak bapak-bapak dan ibu-ibu suruh bikin kaco. Tapi kalau kemenangan ditanggal 27 itu berada di kita kemudian sengaja dipermainkan untuk alihkan kemenangan maka saya pastikan Tidore akan lautan darah,” kata Muhammad Sinen lagi disepan Kantor DPC PDIP, pada Senin 23 September 2024 kemarin.

Suyono bilang, dirinya meyakini Muhammad Sinen pasti paham, bahwa pelaksanaan pemungutan suara memang pada tanggal 27 November 2024, sementara untuk tahapan penghitungan  suara dan rekapitulasi hasil perhitungan suara sesuai jadwal akan berlangsung dari tanggal 27 November – 16 Desember 2024.

Selanjutnya, jika ada pihak-pihak yang berkeberatan atas hasil pelaksanaan Pilkada maka ada mekanisme lewat Mahkamah Konstitusi, dan itu membutuhkan waktu hingga akhirnya KPU secara resmi mengumumkan Penetapan Hasil Pemilu dengan Permohonan Perselisihan Hasil Pemilu setelah putusan Mahkamah Konstitusi.

“Semua proses penyelenggaraan Pilkada ada mekanismenya, makanya sangat disayangkan pernyataan yang keluar  dari Muhammad Sinen tentang kemenangan nanti di tanggal 27 November itu,”terangnya.

Kata Suyono, Muhammad Sinen menyampaikan pesan yang terlalu berlebihan dan begitu tidak elok.

“Sebagai Wakil Wali Kota Tidore  dua periode, semestinya beliau paham betul apa sih permasalahan Tidore saat ini, utamanya dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat,” jelasnya.

“Nah, poin-poin itu yang mestinya beliau terus menerus sampaikan, baik sebelum tahap kampanye (silaturahmi pendukung) dan saat memasuki tahap kampanye. Sebab jika pernyataan yang keluar terkesan seperti yang beredar ini tentunya akan menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, kata Suyono, ia juga mencatat sebelum ada pernyataan seperti ini beredar, ada pernyataan yang membuat publik saling jawab menjawab, yakni pernyataannya soal ‘Ngoni Lawan Ayah itu sama deng Ngoni Lawan Tuhan (Kalian yang melawan Muhammad Sinen sama dengan Melawan Tuhan)’

“Meskipun maksud pernyataannya sekilas diasosiasikan bahwa Tuhan bersama orang-orang baik, tetapi harus dicermati ada pernyataan pembuka dan pernyataan setelahnya yang berkaitan satu sama lain,” jelasnya.

“Begini yah, setelah polemik soal Kebaikan dan Tuhan, saya juga mengikuti beberapa pembelaan terhadap Muhammad Sinen dari para pendukung yang berseliweran di Media Sosial, saya mau ingatkan saja, siapun Dia jika terpilih dan dipercayakan oleh masyarakat untuk menjadi Pemimpin, berarti Dia itu dianggap terbaik dan layak, oleh karenanya sudah merupakan kewajiban Pemimpin untuk berperilaku baik sejak dari hati hingga kebijakan-kebijakannya dalam berpemerintahan, sebab tugas pemimpin  adalah melayani rakyat, jadi yah tidak perlu sesuatu yang baik itu digembor-gemborkan secara berlebihan,”tambahnya.

Suyono berharap, siapapun calonnya, baik itu pasangan calon MASI-AMAN maupun SAM-ADA, dalam memasuki tahap kampanye ini hindarilah penyampaian yang dapat menggiring opini masyarakat untuk “saling serang”, menjatuhkan lawan politik dengan cara-cara yang tidak elok hingga berakibat pada perpecahan di tengah masyarakat.

“Saya percaya, pasangan calon yang berkompetisi pada Pilkada Tidore ini adalah orang-orang hebat yang mewakili masyarakatnya, tapi tentu tidak luput dari kekhilafan dalam penyampaiannya, maka paling tidak harus terus di ingatkan,” tutupnya.***